Wanita kedua

Kepada, wanita yang telah merebut lelakiku

Tak usah mengernyitkan dahi mengapa aku mengirimimu surat (cinta).

Aku heran, apa kau tak bahagia dengan pasanganmu, hingga kamu harus merebut lelakiku? Begitu mudahnya kamu merebut sumber kebahagiaanku.

Hubungan yang sudah aku jaga selama tiga tahun, harus hancur karena kamu. Dan kamu begitu mengagungkan cinta. Cinta yang teramat suci. Cinta yang seharusnya tidak ternoda oleh ulahmu.

Kau pintar sekali mencari celah. Kau tawarkan hadirmu yang tak mampu aku berikan ke dia. Di saat dia sakit, aku hanya bisa berdoa, agar kesembuhan segera menghampirinya. Kamu? Kamu bahkan mencari muka dengan mengantarnya ke lab.

Oh, jangan salahkan jarak. Aku sudah terpisah dengan lelakiku, jauh sebelum kau mengenal dia. Lebih jauh. Banjarmasin & Jakarta pernah menjadi tempatku menetap. Dan selama itu hubunganku dengannya baik-baik saja. Kini, saat jarakku semakin terpotong, dia beralih padamu. jarak tak salah.

Kepada, wanita yang telah merebut lelakiku,
Aku heran, mengapa kau tak memperbaiki pasanganmu, daripada mencari lelaki lain. Dan kenapa harus lelakiku yang kau pilih? Tentu saja aku juga mencecar lelakiku dengan banyak ‘mengapa’ namun aku melihat dia sengaja melindungimu.

Aku tak tahu, apa kau tak takut akan karma yang akan menimpamu? Atau anak perempuanmu?

Sekarang, aku akan bertepuk tangan atas apa yang sudah kamu lakukan kepadaku. Aku tak mau menghabiskan energiku untuk memakimu, meskipun aku sangat ingin melakukannya.

“Berbahagialah kamu, dengan cintamu yang jahat. Cinta yang mencari celah untuk dapat memisahkan dua hati yang menyatu”

Wanita yang terluka karenamu

Leave a Reply