One Day Trip To Kepulauan Seribu

Alarm hapeku berbunyi saat waktu menunjukkan pukul 4.30 pagi. Setelah cuci muka & bersiap- siap, aku bergegas berangkat ke Kepulauan Seribu. Hari itu, aku akan berwisata ke 3 Pulau di Kep. Seribu mengikuti one day trip yang diselenggarakan @Tukang_Jalan. Berangkat pukul 5.30 pagi dari Slipi, aku dan Nita menuju ke Kamal Muara.Transportasi ke sana gampang kok. Nih alternatifnya:
1. Dengan Bus Trans Jakarta Kalideres, turun di halte Rawa Buaya, lanjut naik carry plat hitam sampai mentok di Dermaga Kamal Muara dilanjutkan dengan berjalan kaki.
2. Dari Slipi, naik kopaja 88 ( atau jurusan Kalideres ) turun di perempatan Cengkareng ( Mal Cengkareng ), lanjut naik carry plat hitam sampai mentok di Dermaga Kamal Muara dilanjutkan dengan berjalan kaki.
3. Dari arahTangerang, naik kopaja apapun arah Grogol, turun di perempatan Cengkareng ( Mal Cengkareng ), lanjut naik carry plat hitam sampai mentok di Dermaga Kamal Muara dilanjutkan dengan berjalan kaki.
4. Naik Taksi atau Ojeg sampai ke Dermaga Muara Kamal.

FYI, kalau naik carry, carry-nya akan nunggu sampai penumpang penuh ( sekitar 12 orang) baru dia akan jalan. Jadi, mungkin akan lama saat menunggu. Tarif sampai di DermagaMuara Kamal cukup dengan Rp 6.000,00 saja (tahun 2013 ).

Kami menempuh perjalanan ± 1 jam untuk sampai ke Dermaga. Well, perjalanannya bisa dibilang tidak terlalu nyaman. Terutama setelah turun dari carry dan jalan kaki ke pelabuhan. Banyak genangan air dan bau amis ikan tercium di mana-mana.

Setelah mencuci kaki di salah satu rumah warga, aku dan Nita menunggu. Itinerary yang diberikan sih kami berangkat pukul 07.30. Dan sampai pukul 08.15, kami belum berangkat karena ada 7 orang yang belum datang. Lumayan bikin jengkel dan BT sih, sampai akhirnya Nita bilang ke Team Leader kami dan diputuskan kami berangkat dulu dengan satu perahu.

Ber-24, kami menuju ke Pulau pertama, yaitu Pulau Kelor.

Pulau Kelor dahulu dikenal dengan nama Pulau Kherkof, merupakan pulau yang berada pada gugusan Kepulauan Seribu. Secara administrative termasuk dalam wilayah Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu provinsi DKI Jakarta. Pulau Kelor terletak berdekatan dengan gugusan yang sama dengan Pulau Petondan Besar, Pulau Petondan Kecil, Pulau Kelapa dan Pulau Bidadari.

Di pulau ini terdapat peninggalan Belanda berupa galangan kapal dan benteng yang dibangun VOC untuk menghadapi serangan Portugis di abad ke 17. Di sini juga terdapat kuburan Kapal Tujuh atau Sevent Provincien serta awak kapal berbangsa Indonesia yang memberontak dan akhirnya gugur di tangan Belanda.

( Sumber: Wikipedia )

Salah satu sudut Pulau Kelor

Setelah sekitar satu jam berada di Pulau Kelor, perjalanan dilanjutkan ke Pulau Cipir.

Dahulu, pulau ini bernama Pulau Khayangan yang berganti nama menjadi Pulau Cipir (dalam Bahasa Belanda disebut Kuijper). Merupakan lahan bekas rumah sakit untuk perawatan dan karantina penyakit menular bagi para jamaah haji pada abad ke 19.

Jamaah haji yang baru tiba dari tanah suci pertama kali turun di Pulau Cipir. Para jema’ah haji itu satu persatu diperiksa kesehatannya, jika mereka membawa bibit penyakit menular, berarti harus tinggal di stasiun karantina di Pulau Cipir, namun untuk jamaah yang dinyatakan sehat akan dibawa ke Pulau Onrust. Di pulau ini terdapat peninggalan sejarah, yaitu sebuah benteng yang dibangun oleh Belanda pada zaman VOC.

tepi pantai Pulau Kelor
tepi pantai Pulau Kelor

Pulau terakhir, yaitu pulau Onrust merupakan Pulau terbesar dari 3 pulau yang kami kunjungi.

Pulau Onrust merupakan salah satu pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta yang letaknya berdekatan dengan Pulau Bidadari. Pada masa kolonial Belanda, rakyat sekitar menyebut pulau ini adalah Pulau Kapal karena di pulau ini sering sekali dikunjungi kapal-kapal Belanda sebelum menuju Batavia. Di dalam pulau ini terdapat banyak peninggalan arkeologi pada masa kolonial Belanda dan juga sebuah rumah yang masih utuh dan dijadikan Museum Pulau Onrust.

Nama ‘Onrust’ diambil dari bahasa Belanda yang berarti ‘Tidak Pernah Beristirahat’ atau dalam bahasa Inggrisnya adalah ‘Unrest’. Di pulau ini, terdapat sebuah makam yang konon kabarnya merupakan makam dari pemimpin pemberontakan DI/TII yaitu Katosoewirjo.

Selain makam Kartosoewiryo, yang terkenal dari pulau Onrust adalah kasih tak sampai seorang wanita Belanda yang bernama Maria Van De Velde. Maria meninggal pada usia 25 tahun di Pulau Onrust, measih mengenakan gaun pengantinnya dan menunggu sang kekasih datang dari Belanda. Ternyata, penantian itu sia-sia karena sang kekasih pun sudah meninggal dunia terlebih dahulu.

Berikut adalah terjemahan yang terukir di batu nisan Maria

Mayatnya dikubur walaupun Ia pantas hidup bertahun-tahun lamanya

Seandainya Tuhan berkenan demikian

Namun rupanya, Jehova menghalangi itu dengan kematian

Maria hilang, Maria tiada lagi

BUKAN!! Saya tarik kembali kata itu

Karena diucapkan tanpa pikir panjang

Maka semoga semua kelancanganku langsung didenda

Kini Maria sungguh-sungguh hidup

Sejak hidup dekat Tuhannya

Ya, itulah sajak yang tertulis di makam Maria. Konon, sampai saat ini Maria masih sering menampakkan diri di Pulau Onrust. Mungkin dia masih menunggu kekasihnya.

Trip hari itu berakhir pukul 15.30. setelah naik perahu selama 30 menit, kami sampai di pelabuhan untuk pulang ke rumah masing-masing.

bersama beberapa teman satu trip
bersama beberapa teman satu trip
sajak di nisan Maria
sajak di nisan Maria
meriam di Pulau Cipir
meriam di Pulau Cipir

Leave a Reply