Tuan bertopi biru

Kepada, tuan bertopi biru
Maaf sebelumnya, aku lancang mengirimu surat. Padahal kita tak pernah kenal sebelumnya.

Perkenalkan, namaku Fara. Saat ini, aku bekerja di salah satu bank swasta. Aku melihatmu saat aku berada di antrean kedai kopi itu. Dan kamu, Tuan, duduk di salah satu sofanya, dengan secangkir kopi di hadapanmu dan earphone terpasang di telingamu. Kamu menggoyangkan kepala, mengikuti irama musik yang kamu dengarkan.

Tuan,
Aku mengamati tingkahmu selama aku menunggu orang di depanku maju & tiba giliranku untuk memesan kopi. Kepalamu masih terus bergoyang, tak kamu pedulikan orang di sekelilingmu. Sesekali, kamu mengecek handphonemu. Mungkin kamu menunggu kabar dari seseorang? Entahlah.

Tuan,
Topi birumu sangat menarik perhatianku. Topi sederhana, namun aku merasa pernah dekat bahkan memilikinya. Padahal aku tahu, bahwa topi itu milikmu. Bukan milikku.

Tuan,
Setelah aku mendapatkan kopiku, aku segera mencari tempat duduk. Sengaja aku memilih tempat yang nyaman untuk terus memandangimu, tanpa kamu sadari. Aku terus mengamatimu dan seulas senyum terlintas di bibirku. Seolah menertawakan kebodohanku ini.

Ah Tuan,
Tak sengaja mata kita bertatapan, aku masih dengan senyumku, yang kemudian kau balas. Mungkin kau merasa aneh, ada gadis tak dikenal yang memberikanmu senyuman. Tapi Tuan, senyumanmu tadi mampu membuatku bahagia. Ya, sesederhana itu.

Tuan Hendra,
Kamu beranjak dari tempat dudukmu saat kamu dengar namamu dipanggil barista. Entah itu namamu yang sebenarnya, atau hanya rekaan, namun aku akan mengenalmu sebagai Hendra, pria dengan topi biru dan secangkir kopi.

Tuan,
Aku masih sibuk mengamatimu dan menyesap kopiku, saat kulihat wajahmu berubah. Senyummu lenyap, berganti tawa yang memperlihatkan gigi putihmu. Aku menolehkan kepala, ingin tahu penyebab tawamu.

Ternyata Tuan,
Sesosok gadis yang sangat cantik menghampirimu, dan langsung merangkulkan tangannya ke pinggangmu. Ah, tentu saja, bagaimana mungkin aku berpikir kamu masih sendiri, tuan? Kamu begitu sempurna untuk menyandang status jomlo.

Tuan,
Aku membereskan barangku dan bergegas pergi. Menurutku, tak ada gunanya aku berlama-lama di kedai kopi itu. Karena aku takkan sanggup melihat tawamu yang tercipta karena kekasihmu.

Tuan Hendra, pemilik topi biru,
Jika nanti ada yang melemparkan senyum di kedai kopi itu, sapalah dia. Mungkin itu aku. Atau jika Tuan tak keberatan, aku yang akan menyapa Tuan.

Leave a Reply