Selamat beristirahat, ayah

26 April 2008 tak akan pernah kulupakan. Suatu kehilangan yang teramat besar yang pernah kurasakan dalam hidupku. Karena aku harus kehilangan pria terhebatku.
Ayah,
Lelaki hebat mana yang mampu menyaingimu? Kamu rela mengorbankan hidupmu demi anak dan keluargamu. Aku tahu, Ayah, bagaimana beratnya menjadi kau. Aku tahu, Ayah, tak mudah menjadi kau.
Iya, semua Ayah pasti akan melakukan apapun untuk anak-anaknya. Masih lekat dalam ingatanku, bagaimana kau membanting tulang agar aku dan dua anakmu lainnya sekolah setinggi mungkin. Kau rela tak makan, agar kami, anak-anakmu yang bandel, tak merasakan kelaparan.

Ayah,
Satu kenangan tentangmu yang selalu membuat air mataku menetes. Begitu banyak yang menyayangimu. Tak hanya kami, keluargamu, namun juga kolega & teman-temanmu. Begitu banyak yang mengantarkan kepergianmu, hingga bukan tangis yang keluar saat tubuh kakumu harus ditimbun tanah merah, namun senyum bangga karena aku mempunyai ayah sepertimu.
Ayah,
Kamu yang cemas saat pukul 9 malam aku belum berada di atas kasurku. Kamu yang selalu membawakanku terang bulan coklat keju saat kau dinas malam. Kau yang selalu mengantarku kuliah. Aku beranjak dewasa. Namun aku tahu, aku akan selalu menjadi putri kecilmu.
Selamat beristirahat, Ayah. I love you.

Leave a Reply