Ibu

Ibuku hanyalah seorang Ibu rumah tangga biasa. Senang memakai daster, tertidur di pukul enam sore dengan televisi yang masih menyala, mengomel tiada henti saat aku malas mandi, selalu mengajarkan kami dengan penuh kasih.

Ibu, buatku adalah seorang pejuang. Pantang menyerah agar anaknya hidup layak. Membesarkan kami sendirian sejak kepergian Ayah, tentu tak mudah. Namun dia mampu. Dia kuat. Padahal, anak-anaknya bandel. Suka membantah apa kata Ibunya. Terutama aku.

Tak terhingga berapa banyak air mata yang jatuh. Berapa peluh yang bercucuran agar kami, anakmu, mampu hidup berkecukupan. Dan bagaimana kakimu melepuh saat membantu kami meniti cita-cita kami.

Dalam sujud syukurmu, terapal doa tanpa jeda untuk kami. Dalam senyummu, tersimpan kekuatan yang tak terhingga. Dalam pancaran matamu, kasih tampak secara nyata.

Ibu, aku tahu perjuanganmu. Saat aku belum memejamkan mata, bahkan kamu bersiap mengumpulkan rupiah. Kamu rela menungguku pulang, agar kita bisa berbincang tentang apapun. Kamu rela menyimpan pedih dan sakitmu sendiri agar kami tak khawatir.

Ibu, aku pernah meninggalkanmu untuk meraih impianku. Sampai aku sadar bahwa tempat terindah adalah rumah kita denganmu menunggu kepulanganku. Iya, itulah arti rumah yang sebenarnya.

Maafkan aku yang belum mampu membuatmu bahagia sepenuhnya. Percayalah, aku dalam perjalanan menuju ke sana, denganmu sebagai dorongannya.

IMG_2764

Leave a Reply