Usah Kau Lara Sendiri

Halo Zee,
Mencoba mengulik sudut otakku untuk mengingat awal persahabatan kita. Perkenalan kita dari facebook, setelah sebelumnya aku mendengar tentangmu dari teman-teman dansa. Mereka seolah ingin membuatku cemburu, dengan menceritakan kedekatanmu dengan mantan kekasihku. Padahal aku tahu, kalian hanyalah sebatas guru dan murid.

Episode kedua, awal pertemuan kita. Ya, di salah satu gedung di kampus, saat itu kita saling menyapa, berjabat tangan. Kau perlihatkan lesung pipimu dan kau kibaskan rambut panjang lurusmu. Manis, ucapku dalam hati.

Selanjutnya, pertemuan kita semakin sering. Entah itu dalam latihan dansa, show atau sekadar bercengkerama menghabiskan waktu.

Kamu semakin terbuka kepadaku, menceritakan berbagai persoalan dan masalah hidupmu. Entah itu soal keluarga, perkuliahanmu, ataupun mengenai kekasihmu. Meski sebelumnya kamu bertutur, kalau kamu bukan tipe pencerita.

Ya, Zee. Aku dapat melihatnya. Bagaimana matamu yang jernih, menyiratkan luka. Atau senyummu yang renyah, namun terkesan patah. Dan kata-kata optimismu untukku, seolah menasehati diri sendiri.

Zee,
Kau sering berpikir terlalu jauh. Cemas untuk sesuatu yang belum pasti terjadi. Lalu, kamu mengutuk dirimu sendiri. Kurangilah. Tak ada gunanya, selalu itu yang kuucapkan.

Zee,
Percayalah bahwa kamu berarti.
Percayalah bahwa banyak yang sayang padamu.
Percayalah, bahwa kamu tak harus menanggung lukamu sendiri.
Ada aku di sini, yang siap mendengar segala keluh kesahmu.

Zee,
Usahlah kau lara sendiri.

IMG_6913

Leave a Reply