Mengenang HMD

  
Lagi-lagi aku harus menulis tentang kepergian. 
‘Mas Kum’, itulah panggilanmu untukku, mas. Tapi kamu selalu mengucapkannya sambil tertawa khas, sehingga aku gak bisa marah karenanya.

Belum lama kita berkenalan. Baru setahun. Awal perkenalan kita, via twitter dan berlanjut dengan pertemuan kita di dunkin amplaz. Masih ingat kan mas? Kamu meluangkan waktumu untuk menemaniku yang harus menunggu hingga dijemput travel.

Lalu, pertemuan kita semakin sering. Dan kamu tetap memanggilku ‘mas kum’. Atau ‘mbak kum’, kadang-kadang. Kita jarang berinteraksi via pesan pribadi, lebih sering lewat mention di twitter.

Dua minggu terakhir, dalam perjalananku di Jogja, dua kali itu kita berjumpa. Dan kamu masih tetap dengan kesederhanaan & tawamu yang khas.

Aku sempat heran saat melihatmu ada di FJB. Karena setauku, kamu tak terlalu suka dengan keramaian manusia dan ubyang ubyung gak jelas. Tapi hari itu, seharian kamu bersama kami, teman-temanmu. Bahkan kita merencanakan piknik bareng, mas. Piknik yang gak akan terjadi. Seolah kamu ingin menghabiskan lebih banyak waktumu bersama kami.

Hari itu, aku sempat cemas membaca pesan di whatsapp, bahwa kamu pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Menurut up-dateanmu, kamu beberapa kali harus rawat inap di rumah sakit. Lalu, karena kerjaan, aku gak sempat melihat hape. Sampai, aku membaca di path, bahwa kamu telah pergi meninggalkan kami selamanya, untuk bertemu dengan Tuhanmu yang Maha Asyik itu.

Setengah tergesa aku membaca whatsapp. Memastikan semuanya benar, bukan hanya guyonan dari kawan-kawan. Tapi, aku yakin, kematian bukanlah hal yang patut dibikin guyonan.

Aku nangis mas. Gak sempat ke kamar mandi, aku nangis di mejaku. Kubiarkan air mata merusak dandananku. Kubiarkan tangisanku menggantikan senyumku. Kubiarkan isakanku lirih mengucap Al-Fatihah. Terlalu cepat kamu meninggalkan kami. Dan tangisan itu masih berlanjut, bahkan ketika aku pulang dan beranjak tidur.

Ah, lagi-lagi kepergian seseorang membuatku menangis saat mengenangnya. Kita memang tak mempunyai banyak kenangan bersama, waktu kita terlalu singkat. Namun, kamu adalah salah satu teman terhebat yang pernah aku temui.

Damailah bersama Tuhanmu Yang Maha Asyik. Di sana, kamu bisa renang di lautan es teh, mas.

1 Comment

  1. You’re so cool! I do not believe I’ve truly read anything like that before.
    So good to discover another person with genuine thoughts on this issue.

    Really.. thank you for starting this up. This web site is one thing that is needed on the internet,
    someone with a bit of originality!

Leave a Reply